Ketika Cuaca Makin Sulit Ditebak…

PERUBAHAN IKLIM
Rabu, 19 Mei 2010 | 05:50 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/05/19/05502057/ketika.cuaca.makin.sulit.ditebak…

Di hamparan sawah yang tanahnya sedang diolah terdapat sepetak kecil persemaian benih padi. Ukurannya 10 meter x 15 meter. Di tempat itulah, benih-benih padi itu disemai, sebelum ”ditandur” atau ditanam di sawah.

Lazimnya persemaian, seperti layaknya hamparan rumput jepang di petak kecil lapangan golf, tumbuhnya kecil-kecil dan merata, serta berwarna kehijauan. Namun, tidak demikian yang terlihat di Kabupaten Subang, salah satu sentra padi di pantai utara Jawa Barat. Persemaian padi itu tampak daunnya mulai mengering.

”Daun tak kuat karena panas matahari yang terlalu terik,” kata Tarlim (46), petani di Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang.

Bukan cuma daun yang mengering. Air di persemaian juga cepat menyusut dan mengering saking panasnya Matahari. Akibatnya, petani harus terus-menerus mengalirkan air di persemaian.

Di Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, serta Kecamatan Lohbener dan Kecamatan Sindang di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, lain lagi ceritanya. Di saat musim gadu seperti sekarang, petani sudah telanjur menyewa pompa untuk menyedot air dari sungai guna mengairi sawah yang kering. Namun, kenyataannya, hujan masih sering turun dengan lebat sehingga uang yang sudah dikeluarkan untuk menyewa pompa pun jadi sia-sia.

”Cuaca sekarang jadi sulit ditebak. Kami tidak mengerti mengapa seperti ini,” kata Casnapi, petani di Kecamatan Lohbener, Indramayu. Berbagai pengetahuan soal pertanian yang dimiliki petani, terutama dalam kaitannya dengan cuaca, kini sepertinya tak bisa dipakai sekarang ini.

Pola tanam berubah

Sejak beberapa tahun terakhir, pola tanam di sentra pertanian padi di Kabupaten Indramayu berubah. Seperti pada tahun ini, petani baru menanam padi musim gadu 2010 tidak lama setelah panen musim rendeng pada Maret lalu. Mundurnya musim tanam gadu disebabkan awal musim rendeng mundur hampir dua bulan, menjadi Desember 2009.

Di musim kemarau, pemanfaatan pompa air untuk mengairi sawah semakin meluas, seperti di Kecamatan Balongan, Juntinyuat, dan Krangkeng (Kabupaten Indramayu), serta di Kecamatan Kapetakan, Susukan, dan Arjawinangun (Kabupaten Cirebon). Air di banyak irigasi umumnya tak bisa lagi dialirkan ke persawahan karena menguap di tengah jalan akibat terlalu teriknya sinar Matahari.

Bukan cuma petani padi, petani tembakau juga mengalami nasib serupa. Di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, karena hujan terus-menerus, petani gagal menanam benih tembakau.

”Saya dua kali menanam benih akibat terkena hujan lebat, semuanya gagal,” ujar Yasin, warga Desa Aeng Bajaraja, Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Madura.

Yasin biasanya mulai menyemai benih tembakau sejak awal April. Benih yang berumur 15-20 hari itu biasa dijual Yasin kepada petani tembakau yang tersebar di lebih dari 10 kecamatan di Sumenep. ”Jangan tanya harga benih berapa. Kalau sudah hujan begini, balik modal saja sangat sulit,” katanya.

Cuaca yang tak menentu dan panas yang terlalu terik juga telah menyebabkan bleaching atau pemutihan terumbu karang di sejumlah wilayah perairan Indonesia. Ancaman ini berpotensi mematikan sampai 90 persen terumbu karang yang terkena bleaching sehingga habitat paling penting biota laut ini makin terganggu

”Saat ini, suhu muka laut naik 0,5 hingga 1,6 derajat celsius di atas normal sehingga mengakibatkan bleaching atau pemutihan terumbu karang,” kata Suharsono, Kepala Pusat Penelitian Oseanografi pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Hary Tirto Djatmiko, Kepala Subbidang Informasi Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, mengatakan, saat ini memang terjadi anomali cuaca. Cukup teknis penjelasannya. Secara garis besar terjadi gangguan cuaca yang berskala regional. El Nino, salah satu anomali cuaca itu, yang bercokol pada awal tahun kini telah meluruh. Namun, sejak awal Mei muncul fenomena Indian Dipole Mode Event dan Madden Julian Oscillation yang berdampak terjadi curah hujan tinggi di kawasan barat Indonesia.

”Itulah sebabnya, di beberapa daerah terjadi panas terik yang kemudian turun hujan lebat,” ujarnya. Fenomena ini pun masih akan terus terjadi hingga beberapa waktu ke depan. Berapa persisnya, sulit diprediksi secara pasti. Mengapa? Alam kini memang sudah berubah. (MUL/THY/MBA/NAW/YUN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: