Mencoba Bangkit dari Keterpurukan

KORBAN LUMPUR
Jumat, 19 Maret 2010 | 03:06 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/19/03060023/mencoba.bangkit.dari.keterpurukan

Mata Sri Indah Yati (45) menatap dua pekerja yang sedang menghaluskan dinding toko miliknya. Rona matanya yang berbinar menyiratkan hati ibu cantik itu sedang berbunga-bunga. Tidak lama lagi ia bisa berjualan. Artinya, roda ekonominya kembali bergulir.

Toko di perumahan Kahuripan Nirwana Village (KNV), Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi tumpuan harapan bangkit dari keterpurukan akibat semburan lumpur panas sejak 29 Mei 2006. ”Sudah enam bulan saya membangun rumah dan toko,” ujarnya.

Toko itu akan menjadi pengganti tokonya di Desa Ketapang, Kecamatan Porong, yang tenggelam oleh lumpur. ”Dulu saya jual alat sepeda pancal, alat listrik, pracangan,” katanya.

Sebagian dagangan dapat diselamatkan sebelum lumpur menenggelamkan rumah dan tokonya. Sisa dagangan itu dijadikan modal untuk membuka toko di kawasan Buduran selama dua tahun. Mulai 1 April 2009 dia pindah ke KNV, kompleks perumahan yang disediakan PT Minarak Lapindo Brantas sebagai bagian dari proses jual-beli aset warga korban lumpur. Ia tidak ingin berhenti berdagang karena hanya itu sumber penghasilan keluarganya.

Suami Indah, Abdul Muntolib, menuturkan, dulu mereka mengandalkan hasil berdagang dan sewa rumah kos. Namun, enam kamar kos di Desa Kedung Bendo ikut ditenggelamkan lumpur. ”Toko ini dibangun pelan-pelan. Kami berharap pembayaran 80 persen dari Minarak beres. Tapi bagaimana lagi, pembayaran dicicil Rp 15 juta per bulan. Itu pun sering terlambat,” kata Muntolib.

”Terus menyesal tidak ada gunanya. Tiap hari harus ada uang untuk berbagai keperluan. Kalau tidak usaha, mau dapat uang dari mana,” kata Indah.

Linggis Kambang

Sikap Indah adalah cerminan sikap sebagian korban lumpur. Harus bangkit. Harus menolong diri sendiri. Air mata sudah habis untuk meratapi nasib. Ibarat sampai keluar air mata darah. Mereka merasa pemerintah tidak peduli terhadap nasib mereka. Energi untuk unjuk rasa sudah terperas habis. Mengadu ke sana-kemari pun tidak ada hasilnya.

Mereka juga tidak terlalu berharap PT Minarak akan menyelesaikan proses pembayaran cicilan. Apalagi mereka diberi tahu, mulai April 2010 jumlah cicilan diturunkan dari Rp 15 juta menjadi Rp 5 juta karena Minarak mengalami krisis finansial sebagai dampak krisis global.

Karena itu, sekitar 40 korban lumpur pada Januari lalu mendirikan Koperasi Linggis Kambang. Mereka percaya, Tuhan tidak akan mengubah suatu masyarakat, kecuali masyarakat itu mengubah nasibnya sendiri. Dengan koperasi itu, mereka berharap bisa bangkit bersama- sama.

Menurut Budiono, seorang pemrakarsa koperasi, nama Linggis Kambang diambil dari istilah yang lazim di kalangan warga korban lumpur sebagai ungkapan kekecewaan warga terhadap pemerintah. Linggis kambang (bahasa Jawa), artinya besi linggis yang mengapung.

”Besi linggis bisa mengapung di permukaan air adalah suatu hal yang mustahil. Jadi, berharap kepada pemerintah, DPR, PT Minarak, itu hal yang mustahil,” Budiono menjelaskan.

Modal awal koperasi Rp 9 juta merupakan dana hibah dari lembaga donor di Inggris. Dibantu pendamping korban lumpur, Paring Waluyo Utomo, koperasi itu bergerak di bidang simpan pinjam, menjual pulsa dan aksesori ponsel.

Berjualan pulsa dan aksesori ponsel, bagi pengurus koperasi itu, Nanik, dapat menambah penghasilan mereka sehari-hari. Setiap hari tercatat 15-20 transaksi pembelian pulsa. Dari setiap transaksi, rata-rata mereka mendapat laba Rp 800-Rp 1.000. Anggota koperasi diwajibkan membeli pulsa di koperasi.

Ada anggota yang mendapat bantuan modal usaha. Misalnya, Ny Sani yang berjualan ikan mujair bakar keliling perumahan. ”Terkadang jualan buah atau sayur. Hanya, saya kalah dengan pedagang yang naik sepeda motor. Saya jalan kaki, apalagi sudah tua,” kata korban lumpur yang belum mendapat pembayaran aset sama sekali itu.

Korban lumpur lain, Heru (36), juga mulai berusaha lagi. Selain bekerja sebagai penjual susu formula, kini Heru memiliki dua kios binatu. Satu kios dikelola istrinya di rumah mereka di KNV. Satu kios lagi dikelola dua pekerja di kawasan Aloha, Sidoarjo.

Sudah enam bulan ia membuka dua kios itu. Modalnya didapat dari sisa pembayaran yang diterima dari PT Minarak untuk rumahnya di Perum Tangulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) I. Kebetulan rumahnya di Perumtas I sudah direnovasi sehingga dihargai lebih mahal dari rumah sejenis. Di Perumtas, ia membeli rumah tipe 36. Di KNV, ia mendapat rumah ukuran 54. ”Saya pilih cash and resettlement. Jadi, saya dapat uang dan rumah,” ujarnya.

Usaha binatu dimulai setelah melihat salah satu temannya sukses di usaha tersebut. Kini, temannya sudah mengoperasikan lima kios di sejumlah wilayah di Sidoarjo. ”Dia bilang cicilan dari Lapindo harus diputar agar tidak cepat habis. Saya tidak mungkin usaha lain karena masih harus kerja. Makanya, pilih usaha ini karena tidak usah ditunggui terus,” katanya.

Korban lumpur lain memilih menjadi tukang ojek, pemandu wisata lumpur, asongan di Jalan Raya Porong, buruh tambak, atau buruh tani. Untuk bangkit bukanlah hal mudah. Kunci utama percepatan kebangkitan adalah penyelesaian pembayaran aset. Namun, mengharapkan hal itu, sama dengan mengharap linggis mengapung. Akhirnya yang terjadi gremet-gremet waton slamet alias bangkit pelan- pelan asal selamat. (APO/RAZ/ANO)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: