Bencana, Kosmologi Jawa, dan Ekoteologi

Senin, 8 Maret 2010 | 17:04 WIB
Oleh: Tom Saptaatmaja

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/08/17045139/bencana.kosmologi.jawa.dan.ekoteologi

Bencana alam lagi marak di mana-mana, termasuk di seantaero Jawa Timur. Banjir bandang baru melanda Pujon, Malang, merusak beberapa rumah dan sekolah, bahkan orang meninggal. Cuaca buruk membuat nelayan Gresik hilang, padahal salah satu dari istri nelayan itu tengah hamil sembilan bulan. Ratusan hektar sawah di Kediri atau Malang kebanjiran sehingga banyak petani merugi. Puting beliung tak mau ketinggalan, merobohkan apa saja, termasuk papan reklame di Surabaya.

Respons warga Jatim terhadap benacana tampak beragam. Ada yang pasrah karena bencana dianggap sebagai sesuatu yang harus terjadi. Ada pula yang biasa karena menganggap bencana pun sebagai hal yang biasa sehingga pesta pora dan kemabukan tetap terus berjalan tiap saat, khususnya di kota-kota besar. Yang penting “aku” senang, persetan dengan bencana alam!

Ada juga yang acuh tak acuh alias masa bodoh karena ada “bencana” lain yang lebih mendesak untuk dicarikan pemecahan. Misalnya “bencana” semakin mahalnya harga sembako, khususnya gula bagi wong cilik atau “bencana” sakit di tengah mahalnya harga obat dan perawatan di rumah sakit yang lebih berorientasi merawat uang daripada orang.

Namun, umumnya orang Jawa bersikap pasrah dalam menyikapi bencana alam. Karena orang Jawa punya kepercayaan tidak bisa melawan kekuatan alam. Para petani di Kediri yang rutin terkena banjir setiap musim hujan, misalnya, tidak pernah menyalahkan cuaca atau Sungai Brantas atau yang lain. Semua harus diterima dengan keikhlasan. Bila dampak bencana coba ditangisi atau dipertanyakan “mengapa ini harus terjadi?”, ada semacam keyakinan derita justru kian menyayat jiwa. Mungkin ada yang menilai sikap seperti itu fatalistis. Namun, sikap pasrah dalam menerima “takdir” yang tak mungkin bisa diubah, menurut Dale Carnegie, justru bisa menjadi kekuatan penyumbuh untuk menjalani hari-hari mendatang. Motivator ulung Amerika itu menunjuk pada sikap pasrah serupa di kalangan suku-suku nomaden di Afrika yang biasa menghadapi badai gurun yang bisa merenggut ternak, kemah atau nyawa mereka.

Kosmologi Jawa

Orang Jawa menyadari betapa hidupnya sangat bergantung pada alam. Dalam kosmologi Jawa, alam terdiri atas alam empiris yang menjadi kediaman manusia dan alam-di-balik-realitas-empiris atau metaempiris. Alam empiris selalu berhubungan dengan alam metaempiris. Setiap peristiwa di dunia empiris dipengaruhi oleh alam metaempiris (Frans Magnis Suseso, Etika Jawa, Gramedia, Jakarta, 2001).

Pada halaman 86 buku Etika Jawa, Romo Magnis menulis: “…pengalaman-pengalaman ’empiris’ orang Jawa tidak pernah empiris semata-mata. Alam metaempiris yang angker dan mengasyikkan menjadi isi pengalaman itu sendiri. Alam empiris selalu diresapi oleh alam gaib.”

Jadi apa yang ada pada alam, seperti sungai, gunung, pohon, udara atau bumi yang kita tempati semuanya ada yang menghuni. Oleh karena itu, ada sakralisasi alam. Alam ini sakral sehingga harus dijaga dan dilestarikan. Ada cukup banyak suku bangsa di dunia ini yang juga paham senada.

Kalau tidak dijaga atau dilestarikan, keseimbangan bisa terganggu. Apalagi kalau manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan peran dan tempatnya, harmoni bisa melahirkan disharmoni, bahkan bencana, seperti gunung meletus, sungai meluap atau tanah menjadi longsor serta banjir bandang. Namun, lewat ritus, seperti larung sesaji di laut atau “selametan” di gunung atau di sawah, orang Jawa yakin bencana-bencana bisa dicegah agar tidak menjadi semakin parah.

Ekoteologi

Namun, hari-hari ini sebagian warga yang tinggal di kawasan pegunungan di Tulungagung, Jember atau Banyuwangi sangat cemas dengan rencana investasi pertambangan di daerah mereka. Mereka takut apa yang terjadi dengan warga Porong, Sidoarjo, dengan lumpurnya, atau bau tidak sedap akibat eksplorasi minyak di Blok Cepu bakal mereka alami juga. Sebab, dalam pandangan mereka bencana yang ditimbulkan oleh eksploitasi alam secara berlebihan tidak akan bisa bisa dicarikan solusinya dengan segala macam ritus atau “selamatan”.

Mengapa tak bisa? Karena eksploitasi alam yang dilakukan oleh para pemuja kapitalisme (dengan anak kandungnya bernama pasar bebas seperti ACFTA), sudah meminggirkan kearifan lokal yang diwarisi para warga Jatim dari para leluhurnya.

Tata dunia atau alam empiris telah berubah fungsinya sehingga para mahluk di alam metaempiris yang jadi penunggu tanah, pohon, tanah, sungai atau pohon tak bisa diajak berdamai atau negosiasi mengingat “tempat tinggal”-nya sudah dirusak oleh mesin-mesin buldozer kapitalisme. Mau diadakan selamatan 1.000 kali sehari pun tidak akan bisa memulihkan keseimbangan yang sudah rusak dan musnah.

Dalam novel Bilangan Fu (2008), Ayu Utami ternyata menaruh harapan bahwa kerusakan ekologis yang begitu masif dewasa ini sebenarnya bisa ditekan atau setidaknya dicegah dengan kearifan lokal, seperti diyakini orang Jawa di atas. Dan ini ternyata cocok dengan pesan ekoteologi yang dirintis Jack Rogers yang menekankan interelasi yang harmonis antara Allah, manusia, dan alam semesta. Segala bentuk eksploitasi atau destruksi, seperti pembabatan hutan atau eksploitasai tambang yang liar tak akan bisa memulihkan equilibrio ecologico (keseimbangan ekologi). Dan ini akab melahirkan bencana demi bencana. Tom Saptaatmaja Kolumnis, Alumnus Seminari St Vincent de Paul dan STFT Widya Sasana Malang (1992)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: