Mewartakan Daerah dari Situs Berita Lokal

Kedekatan Geografis dan Psikologis Jadi Andalan
Sabtu, 6 Maret 2010 | 12:31 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/06/1231503/mewartakan.daerah.dari.situs.berita.lokal

Tingginya kebutuhan masyarakat akan informasi lokal daerahnya mendorong sebagian masyarakat pun ikut aktif mengambil bagian dalam citizen journalism atau jurnalisme warga. Blog komunitas merupakan salah satu media yang digunakan untuk memuat laporan seputar daerahnya.

Bahkan belakangan situs-situs berita nasional pun ikut memberikan wadah bagi jurnalisme masyarakat pada kanal khusus.

Kesadaran akan kebutuhan itu mendorong warga Kabupaten Banyumas dan Cilacap ikut ambil bagian untuk memberitakan daerahnya dalam situs berita lokal. Berita yang dimuat diramu dari hasil peliputan awak media yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari serta dari laporan masyarakat setempat.

BanyumasNews.com merupakan satu-satunya situs berita lokal yang ada di Banyumas. Portal berita ini didirikan oleh empat sekawan asal Purwokerto, yakni Nanang Anna Nur, Azahari Patrice, Fuad Hassan, dan Duto Purnomo. Di samping mereka berempat, ada tiga reporter yang bertugas berburu berita. Satu tenaga pemasaran bertugas mencari iklan.

Bermodal awal Rp 30 juta, BanyumasNews.com mulai mengudara pada April 2009. Awalnya, portal yang berkantor di Jalan Gatramas Raya 28, Purwokerto, ini lebih menonjolkan laporan berbentuk feature. Namun, persaingan dengan media-media informasi lain serta kebutuhan penyampaian berita secara cepat membuat portal ini kini menonjolkan straight news.

Lain halnya dengan situs berita lokal dari Cilacap, yakni Cilacap Media.com yang didirikan pada 2007. Situs berita ini hanya digarap seorang diri oleh Wagino (39), warga Kecamatan Cilacap Tengah, Cilacap.

Meski demikian, rata-rata pengunjung situsnya dalam sebulan mencapai 10.000 pengunjung. Bahkan pemberitaan proses penahanan Bupati Cilacap Probo Yulastoro sebagai tersangka korupsi APBD Cilacap membuat pengunjungnya melonjak menjadi 17.000 pengunjung per bulan selama Juni sampai September 2009.

Keterbatasan dana

Menurut Wagino, pengelolaan situs berita lokal ini butuh biaya tak sedikit. Biaya operasional liputan bisa mencapai Rp 1,5 juta per bulan. Biaya sewa domain dan hosting untuk situs berita sebesar Rp 210.000 per tahun. Sementara sejak situs diluncurkan, belum pernah ada pendapatan. Untuk membiayai seluruh beban operasional itu, Wagino mendanainya dari usaha warung internetnya. Minimnya pendapatan yang diperoleh membuat Wagino akhirnya harus menggadaikan motornya untuk menghidupi situs berita lokalnya.

Kesulitan menghidupi situs berita lokal ini juga terbentur konsistensi komunitas yang menyelenggarakannya. Situs berita Kabar Kebumen.com, situs berita lokal seputar Kebumen ini sempat beroperasi selama setahun. Namun sekarang situs itu sudah ditutup karena pengelolanya tidak lagi aktif memasok berita.

Anto Supriyanto (27), salah seorang pengelolanya mengaku, semangat mereka sedang turun. Produksi beritanya menurun dari lima berita per hari menjadi satu sampai dua berita per hari. Hal itu karena para pengelolanya adalah kalangan wartawan sejumlah kantor berita yang bertugas di Kebumen. “Mulanya sih semangat, tapi kemudian mulai males-malesan karena kami juga harus memasok berita ke tempat kami bekerja,” ucap Anto.

Potensial

Namun, Anto tetap berkeinginan menghidupkan kembali situs berita lokal karena pembacanya potensial, meski sulit berharap ada pendapatan dari situs itu. “Situs berita lokal dapat mendekatkan warga Kebumen yang sedang merantau dengan kampung halamannya,” jelas Anto.

Dosen Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Mite Setiansah, mengatakan, situs berita lokal diperkirakan dapat terus berkembang karena unsur kedekatan dalam setiap berita bagi pembacanya. Kedekatan itu tak hanya terbatas pada masalah geografis melainkan juga psikologis.

“Jika kangen kampung halaman, orang cenderung akan mencari informasi seputar kampungnya. Begitu juga bagi seorang pendatang akan mencari informasi di seputar lingkungan sekitarnya,” kata Mite.

Namun dari segi jurnalistik, Mite mengatakan, keberadaan jurnalisme warga masih diperdebatkan. Ada banyak hal yang dapat digali dari jurnalisme warga, namun tulisan yang dimuat dalam kolom jurnalisme warga ada yang hanya sebatas laporan dan bahkan pesan sehingga syarat beritanya pun menjadi tidak terpenuhi. (M Burhanudin/Madina Nusrat)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: