Kearifan Lokal Atasi Bencana di DIY

Pesisir Kulon Progo Belum Sepenuhnya Aman
Sabtu, 6 Maret 2010 | 13:03 WIB

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/06/13034644/kearifan.lokal.atasi.bencana.di.diy

Yogyakarta, Kompas – Kearifan lokal mendasari penanganan bencana berikut dampak yang ditimbulkan di DI Yogyakarta. Menghadapi gempa bumi tahun 2006 lalu, DIY menunjukkan kekayaan kearifan lokal yang membanggakan.

“Itulah filter efektif masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan kebencanaan yang terjadi,” kata Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X dalam sambutan tertulis yang dibacakan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Provinsi DIY Tavip Agus Rayanto, ketika menerima kunjungan kerja Komisi E DPRD Jawa Timur di Kepatihan, Yogyakarta, Jumat (5/3).

Kunjungan kerja DPRD Jawa Timur ini untuk melaksanakan studi banding penanganan bencana sebagai referensi penyusunan Rancangan Peraturan Daerah tentang Penanganan Bencana. “Kami ingin belajar banyak dari DIY,” kata Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jatim Ackhmad Iskandar.

Disampaikan Tavip, salah satu kearifan lokal DIY, terutama di pedesaan, adalah rembuk desa dan berbagai pertemuan tingkat RT, RW, dusun, dan desa. Di sana warga bermusyawarah, berembuk, dan bergotong royong demi solusi sesuai kondisi yang dihadapi.

Melalui forum itu, dalam gempa bumi DIY 2006, warga secara arif mendahulukan membangun rumah warga yang paling membutuhkan. Forum itu turut mencegah hilangnya kearifan lokal, seperti nilai kebersamaan, gotong royong, dan kearifan lokal lain.

Saat ini Pemprov DIY sedang menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Untuk mengatasi bencana diperlukan koordinator utama setingkat wakil gubernur. Harapannya, peran koordinasi menguat sehingga efektif memimpin teknis penanganan bencana.

Namun, BPBD dinilai tak perlu ada di setiap kabupaten/kota karena hanya membebani APBD yang berujung ketidakefektifan. Peran kabupaten/kota adalah berbagi pendanaan untuk pengadaan peralatan. Di Kulon Progo, pemerintah kabupaten dituntut segera menyusun rencana strategis penataan ruang wilayah pesisir. Pesisir Kulon Progo belum aman dari ancaman gelombang pasang, tsunami, dan badai.

“Wilayah pesisir seperti Cilacap sudah punya selter, tetapi Kulon Progo belum. Padahal, karakter fisik pantainya tanpa halangan vegetasi atau bukit. Jika terjadi tsunami akan mengenai wilayah luas,” kata Peneliti Pusat Studi Bencana UGM Djati Mardiatno.

Sepanjang 2009 terjadi 11 bencana alam kelautan dan 55 angin ribut. Bencana merata di Galur, Panjatan, Wates, dan Temon, yang memiliki wilayah pesisir. (RWN/YOP)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: