TUNGKU HEMAT ENERGI

Serasah Dedaunan Jadi Briket
Jumat, 30 April 2010 | 04:24 WIB
Nawa tunggal

http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/30/04242757/serasah.dedaunan.jadi.briket.

Namanya, ”THE Save 80”. Tungku yang bisa menghemat biomassa sampai 80 persen. Tungku ini diciptakan Herliyani Suharta dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi untuk masyarakat yang mulai sulit memperoleh kayu bakar akibat makin terbatasnya pohon.

Tungku hemat bahan bakar ini tentu bermanfaat pula bagi mereka yang kesulitan mengakses gas elpiji atau minyak tanah karena alasan mahal atau sulit menjangkaunya. Sebenarnya, tungku ini juga bermanfaat bagi yang ingin melestarikan pepohonan.

Serasah dedaunan dari pohon, rumput, dan ilalang, atau ranting-ranting kering selama ini kerap diabaikan dan dianggap sampah pengotor lingkungan. ”THE Save 80” karya Herliyani akan mengubah itu semua menjadi sumber energi yang bermanfaat.

Rekayasa ini sudah dirintis sejak tahun 2005. Herliyani juga menciptakan tungku-tungku hemat energi biomassa lainnya.

”THE” sebenarnya istilah yang diambil Herliyani sebagai kepanjangan dari Tungku Hemat Energi. Selain ”THE Save 80”, Herliyani juga menciptakan THE S1 dan THE S2.

Semuanya bisa menghemat biomassa sampai 80 persen dibandingkan dengan tungku-tungku yang lazim dipakai masyarakat tradisional. Terlebih pada tungku tiga batu.

Tungku tiga batu memiliki desain penataan tiga buah batu sebagai penopang alat masak. Tungku tiga batu amat memboroskan kayu bakar. Api yang berkobar-kobar menjadikan sebagian energinya terbuang sia- sia. Kayu yang digunakan pun selalu menjadi berlebihan.

Briket dedaunan

Untuk memulai gagasan menghemat sumber energi biomassa, Herliyani memulainya dengan mengenalkan cara membuat briket biomassa dari sampah dedaunan ditambah kertas.

Jika yang dipunyai hanya ranting, tidak perlu dibikin menjadi briket. Ranting itu tinggal dipotong-potong kecil dengan panjang 10-12 sentimeter.

”Tidak perlu lem perekat untuk membuat briket dedaunan. Kertas sudah mengandung lem,” kata Herliyani, Senin (19/4) di Jakarta.

Kertas direndam sepanjang malam. Pada keesokan harinya menjadi bubur kertas. Lalu, bubur kertas digunakan untuk membentuk briket dengan cara mencampurkannya dengan daun, rumput, atau ilalang.

Dengan cara mengepalkan erat-erat di dalam genggam tangan, campuran itu pun tercetak menjadi briket yang siap dikeringkan.

Sekam, jerami, serbuk gergaji, atau serutan kayu juga bisa dijadikan briket seperti ini. Ranting yang dipotong-potong pun siap dimanfaatkan langsung untuk bahan bakar THE S1, THE S2, atau THE Save 80.

Tungku THE S1 didesain memanfaatkan sirkulasi udara secara alami. THE S2 menggunakan bantuan kipas angin elektrik untuk lebih mengoptimalkan titik api secara vertikal memanasi alat masaknya. Penggunaan kipas angin juga menjadikan pembakaran sempurna. Ini akan mengurangi asap.

THE Save 80 dirancang khusus lebih sempurna dari kedua tungku sebelumnya.

”THE Save 80 mengadopsi prinsip pembakaran tertutup untuk mengurangi emisi karbon,” ujarnya.

Herliyani mendesain THE Save 80 dengan membuat lubang yang mendukung sirkulasi udara cukup untuk nyala api. Posisi panci diberi penampang, menutup rapat bagian atas tungku.

Asap pun tidak terbuang. Desain THE Save 80 juga menurunkan kehilangan panas secara konvektif sehingga menghemat bahan bakar briket biomassa ataupun ranting-ranting.

Ukuran THE S1 dan THE S2 dengan diameter tidak lebih dari 20 sentimeter dengan tinggi berkisar antara 20-30 sentimeter. Hal ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan THE Save 80 yang bisa dua kali lipatnya.

Hasil pengujian

Herliyani menunjukkan, hasil pengujian THE S1 dengan kecepatan suplai bahan bakar 6,6 gram per menit berhasil mendidihkan air 5 liter di dalam panci aluminium selama 45 menit. Ini hanya menghabiskan 190 gram briket dedaunan, serta 110 gram ranting.

THE S2 bisa lebih cepat. Air 5 liter di dalam panci aluminium mendidih dalam waktu 36 menit dengan briket dedaunan 400 gram dengan kecepatan suplai briket 11,1 gram per menit.

THE Save 80 diuji coba dengan ranting 330 gram mampu mendidihkan 6 liter air dalam waktu 30-37 menit. Kecepatan suplai ranting 9-10,7 gram per menit. ”THE Save 80 diajukan untuk Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM) sesuai Protokol Kyoto,” kata Herliyani.

Comments
2 Responses to “TUNGKU HEMAT ENERGI”
  1. FPPEA mengatakan:

    Memasyarakatkan alat-alat hemat energi yang mudah digunakan oleh masyarakat dan juga mudah didapat oleh masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: